Kediri,Jatim(kibaunews)-Sekolah unggul tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas memadai, gedung megah, maupun prestasi akademik siswa. Lebih dari itu, sekolah harus memiliki karakter, identitas, dan nilai yang menjadi pembeda di tengah persaingan lembaga pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Frater Agustinus, BHK, Kepala Subperwakilan Yayasan Mardi Wiyata Kediri, dalam perayaan HUT ke-68 Yayasan Mardi Wiyata, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Frater Agustinus, masyarakat saat ini dapat menemukan banyak sekolah dengan fasilitas lengkap, sarana pendidikan yang baik, serta siswa berprestasi. Namun, keunggulan sekolah tidak seharusnya hanya diukur dari aspek fisik dan pencapaian akademik.
Dua sekolah Katolik di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata Kediri, yakni SDK Frateran 1 dan SMPK Mardi Wiyata, terus diarahkan untuk menjadi sekolah unggul dengan tetap mempertahankan kekhasan dan identitasnya.
“Sebagai sekolah Katolik yang unggul tentunya sekolah memiliki faktor X yang sering kita sebut faktor pembeda,” ungkap Frater Agustinus.
Ia menilai faktor pembeda menjadi penting karena setiap sekolah memiliki karakteristik masing-masing. Bagi sekolah Katolik, salah satu kekhasan tersebut terletak pada identitas Katolik dan nilai universalitas kasih yang bersumber dari Kristus.
“Faktor pembeda wajib dimiliki sekolah, mengingat setiap sekolah memiliki ciri khas masing-masing. Salah satu kekhasan sekolah Katolik terletak pada identitas Katolik dan pada nilai universalitas kasih yang bersumber dari Kristus sendiri,” bebernya.
Identitas Katolik Tidak Boleh Hilang
Frater Agustinus menegaskan, identitas Katolik SDK Frateran 1 dan SMPK Mardi Wiyata Kediri harus terus dipertahankan dan diperjuangkan.
Menurutnya, sekolah Katolik tidak boleh terjebak pada orientasi akademik semata. Nilai-nilai Injili harus tetap menjadi bagian penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
Tujuan pendidikan, kata dia, bukan hanya menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang mencintai Tuhan dan sesama berdasarkan nilai-nilai Injili.
“Sekolah Katolik yang hanya memfokuskan diri pada sisi akademik akan kehilangan jati diri. Lupa misi akan menjadi mudah lelah karena sibuk bersaing,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai sekolah misi, pendidikan karakter tidak boleh diabaikan. Justru karakter menjadi salah satu kekuatan yang memberikan daya tarik sekaligus membedakan sekolah Katolik dengan lembaga pendidikan lainnya.
Pendidikan Karakter Jadi Kekuatan Sekolah
Lebih lanjut, Frater Agustinus menekankan bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dalam proses pendidikan. Pembentukan karakter tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga menyentuh aspek emosional, fisik, sosial, dan spiritual siswa.
“Sehingga dengan demikian siswa yang berkarakter akan menjadi siswa berprestasi,” tuturnya.
Menurutnya, sekolah Katolik juga memiliki peran lebih luas sebagai sarana menghadirkan wajah Gereja di tengah masyarakat. Karena itu, sekolah tidak hanya dituntut mengejar prestasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kelompok yang terpinggirkan secara sosial, budaya, ekonomi maupun intelektual.
Identitas Katolik, lanjutnya, tidak cukup diwujudkan melalui simbol-simbol keagamaan yang terdapat di lingkungan sekolah. Identitas tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui relasi antara guru dan siswa.
Ruang kelas menjadi salah satu tempat penting untuk menghadirkan nilai tersebut. Guru yang mengajar dengan penuh perhatian, melayani dengan kasih, serta memahami kebutuhan siswa dinilai turut menghadirkan wajah pendidikan Katolik yang sesungguhnya.
Demikian pula siswa diharapkan mampu menghargai guru sebagai pribadi, bukan hanya dalam hubungan profesional antara pendidik dan peserta didik.
Dengan demikian, interaksi yang terbangun di dalam kelas dapat menjadi cermin identitas sekolah Katolik yang mengedepankan kasih, penghargaan terhadap martabat manusia, dan kepedulian terhadap sesama.
“Kehadiran guru di sekolah dan masyarakat adalah simbol kehadiran Allah, mencerminkan kasih Allah yang tertuang dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Jadi untuk para guru, tetaplah mendidik dengan hati dan melayani dengan kasih,” tandas Frater Agustinus.(jsd)



















