Ketapang,Kalbar(kibaunews) – Semangat membangun desa kembali tumbuh dari tangan-tangan anak muda di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Sejumlah pemuda setempat mulai bergerak mengajak masyarakat untuk kembali mengelola perkebunan kopi yang selama ini masih ada, baik tanaman lama yang mulai ditinggalkan maupun kebun-kebun yang masih bertahan.
Inisitif tersebut lahir dari keinginan mendorong kebangkitan ekonomi masyarakat desa melalui sektor perkebunan rakyat yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

See Also
Rapat Kerja Komisi III DPRD Bersama Dinas Perdagangan Kabupaten Ketapang Bahas Pemasalahan Pasar dan Retribusi
Salah satu tokoh pemuda Desa Kuala Tolak, Supriadi atau yang akrab disapa Daeng Sul, mengatakan sebagian besar tanaman kopi yang masih bertahan di wilayah itu merupakan jenis Liberika, varietas yang dinilai cukup sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
“Selama ini kopi sebenarnya sudah ada di tempat kami. Tinggal bagaimana semangat masyarakat kembali dibangun untuk merawat dan mengelolanya dengan lebih baik, sehingga bisa memberi nilai tambah bagi ekonomi keluarga,” ujar Daeng Sul.
Menurutnya, kopi bukan sekadar tanaman warisan yang tumbuh di kebun warga, tetapi memiliki peluang menjadi komoditas unggulan desa apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, budaya minum kopi di Kabupaten Ketapang maupun di berbagai daerah di Kalimantan Barat juga terus berkembang. Tradisi “ngopi” yang dahulu identik dengan warung sederhana kini tumbuh menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat lintas generasi.
Di Ketapang, kemunculan warung kopi dan kedai-kedai modern terus meningkat, mulai dari pusat kota hingga kawasan pinggiran. Tempat-tempat tersebut bukan hanya menjadi ruang menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi ruang bertemu, berdiskusi, hingga membangun jejaring usaha dan komunitas.
Fenomena serupa juga terlihat di sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat seperti Pontianak, Singkawang, hingga Sambas, di mana budaya ngopi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kopi bahkan mulai dipandang bukan hanya sebagai minuman, melainkan bagian dari identitas budaya dan peluang ekonomi baru.

Melihat tren tersebut, para pemuda Kuala Tolak menilai bahwa potensi kopi lokal harus mulai dipersiapkan dari hulu, yakni melalui penguatan perkebunan rakyat.
Dalam upaya itu, Daeng Sul bersama sejumlah pemuda lainnya mulai aktif melakukan pendampingan kepada masyarakat. Mereka tidak bergerak sendiri. Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari salah satu lembaga non-pemerintah di Kabupaten Ketapang, yang ikut mendampingi pemberdayaan masyarakat desa.
Pendampingan diwujudkan melalui berbagai pelatihan, di antaranya teknik sambung pucuk, perawatan tanaman kopi, hingga pengenalan pengelolaan pascapanen sederhana. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas tanaman sekaligus mendorong hasil produksi yang lebih optimal dan bernilai jual lebih baik.
Bagi masyarakat Kuala Tolak, gerakan kecil yang dimulai para pemuda itu menjadi harapan baru. Di tengah tantangan ekonomi desa, kopi perlahan kembali dilihat bukan hanya sebagai tanaman kebun, tetapi juga sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kalau anak muda mau bergerak, desa punya harapan. Kami ingin kopi Kuala Tolak kembali dikenal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tutup Daeng Sul.
Sumber :Sul / Editor :Js














