Ketapang, Kalimantan Barat |Kibaunews— Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kabupaten Ketapang berlangsung meriah, namun dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan yang dihadapi buruh. Di tengah semarak kegiatan, suara kritis muncul, mempertanyakan apakah riuh perayaan benar-benar mampu meredakan luka panjang buruh.
Ketua Persatuan Wartawan Kalimanta Barat (PWK), Verry Liem, menilai bahwa pelaksanaan May Day tahun ini masih didominasi kegiatan seremonial yang minim makna substantif. Menurutnya, momentum tersebut semestinya menjadi ruang refleksi dan dialog terbuka mengenai persoalan ketenagakerjaan yang masih kerap terjadi di Ketapang.
“May Day seharusnya menjadi wadah untuk membahas persoalan buruh secara serius, bukan sekadar seremoni seperti senam massal dan pembagian doorprize,” ujarnya.
Ia menegaskan, peringatan Hari Buruh idealnya menghadirkan diskusi yang jujur dan konstruktif, melibatkan berbagai pihak untuk merumuskan rekomendasi nyata bagi kesejahteraan pekerja. Tanpa itu, perayaan hanya akan menjadi gema sesaat yang hilang tanpa meninggalkan perubahan berarti.
Selain substansi acara, Verry juga menyoroti aspek profesionalitas panitia pelaksana, khususnya dalam administrasi undangan resmi. Ia menyebut adanya ketidakteraturan dalam distribusi undangan kepada organisasi pers yang dipimpinnya, yang mencerminkan kurangnya koordinasi.
Ke depan, ia berharap pelaksanaan May Day di Ketapang dapat lebih terarah, profesional, dan berorientasi pada substansi. Dengan demikian, peringatan ini tidak sekadar menjadi panggung perayaan, tetapi benar-benar menjadi jembatan harapan bagi para buruh—tempat suara mereka didengar, dan perjuangan mereka menemukan arah.














