Ketapang, Kalbar(kibaunews) – Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026 yang digelar di lingkungan Keraton Matan Tanjungpura, Kelurahan Mulia Kerta, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus berlangsung meriah memasuki hari kedua, Jumat (22/5/2026). Setelah resmi dibuka pada malam sebelumnya, rangkaian kegiatan budaya dan sastra tradisional itu dipadati masyarakat, budayawan, serta para pecinta syair dari berbagai daerah di Ketapang.
Sejak pukul 14.00 WIB, kegiatan diisi dengan pembacaan syair bertema sejarah syair Melayu, permainan rakyat tradisional, hingga panahan tradisional yang berlangsung sampai menjelang Ashar. Sebelumnya, sejak pagi hari, peserta juga mengikuti berbagai pembacaan syair yang mengangkat sejarah Kabupaten Ketapang dan warisan budaya daerah hingga menjelang pelaksanaan Salat Jumat.

Usai Ashar sekitar pukul 15.30 WIB, kegiatan kembali dilanjutkan dengan pembacaan syair bertema sejarah Nanga Tayap dan sejarah Laur. Selain itu, sejumlah syair yang mengangkat adat istiadat pernikahan masyarakat Melayu turut ditampilkan, mulai dari tradisi merisik, malam bepacar, ngunjam selasar, hingga begegantong. Rangkaian acara sore tersebut berlangsung hingga menjelang Magrib.
See Also
Pada malam harinya, festival kembali diramaikan dengan pembacaan syair gulung dari berbagai peserta dalam upaya mendukung pencapaian rekor MURI. Beragam tema budaya, sejarah, dan nilai-nilai kearifan lokal diangkat dalam pembacaan syair tersebut. Acara juga diselingi penampilan lomba qasidah yang diikuti kelompok ibu-ibu qasidah dari berbagai wilayah di Kabupaten Ketapang.
Ketua Panitia pelaksana dari PLK-NMT, Hakim Surya Putra, menjelaskan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga ruang memperkenalkan kembali tradisi syair gulung kepada generasi muda.

“Festival ini menjadi momentum penting untuk menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan dikenal luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Salah seorang peserta senior syair gulung, Nurhajiman, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap festival budaya seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan berbagai penyempurnaan dan evaluasi ke depan.
Hal senada disampaikan peserta asal Desa Pematang Gadung yang menilai kegiatan tersebut sangat positif dan layak untuk terus dipertahankan sebagai agenda budaya daerah.
Festival ini turut dihadiri ratusan undangan, masyarakat umum, dan sejumlah budayawan Ketapang, di antaranya Mahmud Mursalin. Hadir pula pengurus Majelis Adat Budaya Melayu serta anggota DPRD Ketapang Mia Gayatri bersama keluarga.
Acara dipandu oleh para pembawa acara Irma Yunita, Juraimi, dan Muhamad Abrar yang turut memeriahkan jalannya festival hingga malam hari.(yh/js)


















