Gulir untuk baca berita
Bupati dan Wakil bupati Ketapang /kibaunews.id
Example floating
Example floating
Banner bawah menu kibaunews.id
Ekonomi & BisnisKayong Utara

Harga Kelapa Rakyat di Desa Mas Bangun Terjun Bebas, Petani Minta Perhatian Pemerintah

292
×

Harga Kelapa Rakyat di Desa Mas Bangun Terjun Bebas, Petani Minta Perhatian Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Banner Pita Mozaik 330x60

Kayong Utara (kibaunews) – Di tengah dominasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat, kelapa rakyat masih menjadi tumpuan hidup bagi banyak keluarga di Desa Mas Bangun, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. Namun, harapan para petani kini dihadapkan pada kenyataan pahit setelah harga kelapa turun tajam dari sekitar Rp4.000 menjadi sekitar Rp1.300 per butir.

Penurunan harga tersebut tidak hanya memangkas pendapatan petani, tetapi juga berdampak pada seluruh mata rantai usaha kelapa rakyat yang selama ini menghidupi masyarakat desa.

⚖️ BANTUAN HUKUM

LBH GEMA BERSATU

JL.Wr.Supratman Ketapang,Kalbar

  • ✔ Konsultasi Hukum
  • ✔ Pendampingan Perkara
  • ✔ Bantuan Hukum
Tumpukan karung cocopeat hasil olahan limbah sabut kelapa di Desa Mas Bangun
Tumpukan karung cocopeat hasil olahan limbah sabut kelapa di Desa Mas Bangun/dok:kibaunews.id

Salah seorang pelaku usaha pembelian kelapa rakyat, Ibrahim, mengaku tetap mempertahankan usahanya yang telah berjalan sekitar tiga tahun terakhir meski margin terus tertekan. Baginya, menjaga keberlangsungan pembelian hasil panen petani merupakan bentuk tanggung jawab sosial kepada masyarakat yang masih bergantung pada komoditas tersebut.

“Kalau saya berhenti membeli kelapa, saya khawatir harga akan semakin mudah dipermainkan oleh pihak-pihak lain. Kasihan saudara-saudara kita di Mas Bangun yang masih mengandalkan kebun kelapa sebagai sumber penghasilan,” katanya.

Seorang pekerja warga Mas Bangun sedang mengupas atau menyuit kelapa/dok : kibaunews.id
Seorang pekerja warga Mas Bangun sedang mengupas atau menyuit kelapa/dok : kibaunews.id

Menurut Ibrahim, usaha yang dijalankannya bukan sekadar aktivitas jual beli. Di balik setiap butir kelapa terdapat mata pencaharian puluhan warga yang terlibat, mulai dari pemanjat kelapa, pengupas, tenaga angkut, hingga ibu-ibu yang membantu menjemur kopra saat musim panas. Seluruh aktivitas tersebut memberikan perputaran ekonomi bagi masyarakat setempat.

Ia juga menegaskan bahwa hingga kini usahanya masih dijalankan secara mandiri tanpa memanfaatkan pinjaman maupun pembiayaan dari perbankan. Seluruh modal usaha berasal dari hasil pengelolaan yang dilakukan secara bertahap.

Meski harga kelapa terus melemah, seluruh bagian buah tetap dioptimalkan agar memiliki nilai ekonomi. Kelapa pecah diolah menjadi kopra, tempurung dimanfaatkan sebagai bahan baku arang, sedangkan sabut diolah menjadi cocopeat yang banyak digunakan sebagai media tanam.

Dalam kondisi normal, Ibrahim mampu memasok sekitar 20.000 butir kelapa atau setara dua truk setiap bulan. Namun, distribusi hasil produksi masih menghadapi kendala akibat rusaknya akses jalan. Saat musim hujan, jalan berubah berlumpur sehingga kendaraan pengangkut sulit melintas dan biaya operasional meningkat.

See Also

Keluhan serupa juga disampaikan seorang warga Desa Mas Bangun. Ia mengaku penurunan harga kelapa kali ini menjadi salah satu yang paling berat dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sebagian masyarakat memang mulai menanam kelapa sawit, namun tanaman tersebut belum seluruhnya menghasilkan sehingga belum dapat menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.

“Harga kelapa sekarang turun terlalu jauh. Kami masih mengandalkan hasil kelapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sawit memang sudah ada, tetapi banyak yang masih belum menghasilkan, jadi belum bisa menggantikan penghasilan dari kelapa,” ujarnya.

Tatang Sudarma Kades Mas Bangun Kecamatan Teluk Batang Kayong Utara/dok : beritainvestigasi
Tatang Sudarma Kades Mas Bangun Kecamatan Teluk Batang Kayong Utara/dok : beritainvestigasi/pwk

Sementara itu, Kepala Desa Mas Bangun, Tatang Sudarma, mengatakan produksi kelapa rakyat di desanya mencapai sekitar 50.000 butir setiap bulan. Menurutnya, kelapa masih menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat sehingga penurunan harga sangat dirasakan oleh warga.

“Sebagian besar masyarakat Desa Mas Bangun masih menggantungkan ekonomi keluarganya pada kelapa rakyat. Kami berharap komoditas kelapa mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan memiliki mekanisme atau acuan harga yang lebih jelas sebagaimana komoditas strategis lainnya. Dengan begitu, petani memiliki kepastian harga dan kesejahteraannya dapat lebih terjamin,” ujarnya.

Selain persoalan harga, Tatang juga berharap pemerintah memberi perhatian terhadap pembangunan infrastruktur jalan menuju sentra produksi serta mendorong pengembangan industri pengolahan kelapa di daerah. Menurutnya, hilirisasi akan memberikan nilai tambah bagi komoditas kelapa sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penjualan bahan baku.

Kondisi di Desa Mas Bangun menunjukkan bahwa kelapa rakyat masih memiliki peran penting dalam menopang ekonomi pedesaan meski berada di tengah ekspansi perkebunan sawit. Di sisi lain, tanaman sawit yang baru dikembangkan sebagian warga belum sepenuhnya mampu menggantikan peran kelapa sebagai sumber pendapatan. Karena itu, kebijakan yang berpihak kepada petani, mulai dari pembenahan infrastruktur, penguatan industri hilir hingga upaya menjaga stabilitas harga, dinilai menjadi langkah penting agar komoditas kelapa rakyat tetap mampu bertahan dan memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat.(yh)

Example 120x600
Persatuan Wartawan Kalbar (PWK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Berita